ASUHAN KEBIDANAN 2 PERSALINAN

WELCOME Di KULIAH KEBIDANAN

Jumat, 03 Februari 2012

KALA III


PEMBAHASAN
·         FISIOLOGI KALA III
Kala III dimulai sejak bayi lahir sampai lahirnya placenta/uri.Rata rata lama kala III berkisar 15 s/d 30 menit, baik pada primipara maupun multipara.Tempat implantasi placenta sering pada dinding depan dan belakang korpus uteri atau dinding lateral.Sangat jarang terdapat pada fundus uteri .Bila terletak pada SBR keadaan ini disebut placenta previa.
Fase – fase kala III
1.      Pelepasan Placenta
Setelah bayi lahir, terjadi kontraksi uterus.Hal ini mengakibatkan volume ronga uterus berkurang.Dinding uterus menebal.Pada tempat implantasi placenta juga terjadi penurunan luas area.Ukuran placenta tidk berubah, sehingga menyebabkan placenta terlipat, menebal dan akhirnya terlepas dari dinding uterus.Placenta terlepas sedikit demi sedikit.Terjadi pengumpulan perdarahan diantara ruang placenta dan desiduabasalis yang disebut retroplacenter hematom.Setelah placenta terlepas, placenta akan menempati segmen bawah uterus atau vagina.
2.      Macam macam pelepasan plasenta
a.      Mekanisme Schultz : pelepasan placenta yang dimulai dari central/bagian tengah sehingga terjadi bekuan retroplacenta.Cara pelepasan ini sering terjadi, tanda pelepasan dari tengah ini mengakibatkan perdarahan tidak terjadi sebelum placenta lahir.Perdarahan banyak terjadi segera setelah placenta lahir.
b.      Mekanisme Duncan : terjadi pelepasan plasenta dari pinggir atau bersamaan dari pinggir dan tengah placenta.Hal in I mengakibatkan terjadi semburan darah sebelum placenta lahir.
3.      Tanda tanda pelepasan placenta
a.      Perubahan bentuk uterus.Bentuk uterus yang semula discoid menjadi globuler akibat dari kontraksi uterus.
b.      Semburan darah tiba tiba
c.       Tali pusat memanjang
d.      Perubahan posisi uterus . Setelah plasenta lepas dan menempati SBR maka uterus muncul pada rongga abdomen.
4.      Pengeluaran placenta
Placenta yang sudah lepas dan menempati SBR , kemudian melalui serviks vagina dan dikeluarkan ke intruitus vagina.
5.      Pemeriksaan pelepasan placenta
Kustner : tali pusat diregangkan dengan tangan kanan, tangan kiri menekan atas sympisis.Penilaian :
àtali pusat masuk berarti belum lepas
àtali pusat bertambah panjang berarti lepas
6.      Pemeriksaan pelepasan placenta
a.      Selama hamil aliran darah keuterus 500-800 ml/mnt
b.      Uterus tidak kontraksi : 350-500 ml
c.       Kontraksi uterus akan menekan pemb darah uterus diantara anyaman miometrium.

·         MANAJEMEN AKTIF KALA III
Tujuan manajemen aktif kala III adalah untuk menghasilkan kontraksi kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah perdarahan dan mengurangi kehilangan darah kala III persalinan jika dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis.
Sebagian besar kasus kesakitan dan kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh pascapersalinan dimana sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri dan retensio plasenta yang sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan manajemen aktif kala III.
*      Keuntungan-keuntungan manajemen aktif kala III
1)      Persalinan kala III yang lebih singkat
2)      Mengurangi jumlah kehilangan darah
3)      Mengurangi kejadian retensio plasenta


*      Manajemen aktif kala III terdiri dari 3 langkah utama
1)      Pemberian suntikan oksitosin alam 1 menit pertama setelah bayi lahir
2)      Melakukan penanganan penegangan tali pusat terkendali
3)      Massase fundus uteri
Ø  PEMBERIAN SUNTIKAN OKSITOSIN
1)      Serahkan bayi yang telah terbungkus kain pada ibu untuk diberi ASI
2)      Letakkan kain bersih diatas perut ibu
3)      Periksa uterus untuk memastikan tidak ada bayi yang lain
4)      Beritahu pada ibu bahwa ia akan disuntik
5)      Segera dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir suntikkan oksitosin 10 unit IM pada 1/3 bagian atas paha bagian luar (aspektus lateralis)
Catatan : jika oksitosin tidak tersedia minta ib u untuk melakukan stimulasi putting susu atau menganjurkan ibu untuk menyusukan dengan segera.Ini akan menyebabkan pelepasan oksitosin secara alamiah.Jika peraturan/program kesehatan memungkinkan dapat diberikan misoprostol 600 mcg(oral/sublingual) sebagai pengganti oksitosin.
Ø  PENEGANGAN TALI PUSAT TERKENDALI
1)      Berdiri disamping ibu
2)      Pindahkan klem: penjepit untuk memotong tali pusat saat kala II pada tali pusat sekitar 5-20 cm dari vulva.
3)      Letakkan tangan lain pada abdomen ibu (beralaskan kain) tepat diatas simpisis pubis.gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dan menahan uterus pada saat melakukan penegangan pada tali pusat.Setelah terjadi kontraksi yang kuat, tegangkan tali pusat dengan satu tangan dan tangan yang lain(pada dinding abdomen) menekan uterus kearah lumbal dan kepala ibu (dorso-kranial).Lakukan secara hati hati untuk mencegah terjadinya inversion uteri.
4)      Bila plasenta belum lepas, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali sekitar 2 atau 3 menit berselang untuk mengulangi penegangan tali pusat terkendali.
5)      Saat mulai kontraksi uterus menjadi bulat atau tali menjulur tegangkan tali pusat kearah bawah, lakukan tekanan dosro-kranial hingga tali pusat makin menjulur dan korpus uteri bergerak keatas yang menandakan plasenta telah lepas dan dapat dilahirkan .
6)      Tetapi jika ke 5 langka diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya dan plasenta tidak turun setelah 30-40 detik dimulainya penegangan tali pusat dan tidak ada tanda tanda yang menunjukkan lepasnya plasenta, jangan teruskan penegangan tali pusat.
a.      Pegang klem dan tali pusat dengan lembut dan tunggu sampai kontraksi berikutnya .Jika perlu pindahkan klem lebih dekat ke perineum pada saat tali pusat memanjang.Pertahankan kesabaran pada saat melahirkan plasenta.
b.      Pada saat kontraksi berikutnya terjadi, ulangi penengangan tali pusat terkendali dan tekanan dorso-kranial pada korpus uteri secara serentak.Ikuti langkah langkah tersebut pada setiap kontraksi hingga terasa plasenta terlepas dari dinding uterus.
7)      Setelah plasenta terlepas anjurkan ibu untuk meneran agar plasenta plasenta terdorong keluar melalui introitus vagina.Tetap tegangkan tali pusat dengan arah sejajar lantai (mengikuti poros jalan lahir)
8)      Pada saat plasenta telah terlihat pada introitus vagina, lahirkan plasenta dengan mengangkat tali pusat ke atas dan meopang plasenta dengan tangan lainnya untuk meletakkan dalam wadah penampung.Karena selaput ketuban mudah robek : pegang plasenta dengan kedua tangan dan secara lembut putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin menjadi satu.
9)      Lakukan penarikan dengan lembut dan perlahan lahan untuk melahirkan selaput ketuban.
10)  Jika selaput ketuban robek dan tertinggal dijalan lahir saat melahirkan plasenta, dengan hati hati periksa vagina dan serviks dengan seksama .Gunakan jari jari tangan tau klem DTT atau steril atau forsep untuk keluarkan selaput ketuban yang teraba.


Ø  MASASE FUNDUS UTERI
1)      Tangan diletakkan diatas fundus uteri
2)      Gerakan tangan dengan pelan , sedikit ditekan, memutar searah jarum jam.Ibu diminta bernafas dalam untuk mengurangi ketegangan atau rasa sakit
3)      Kaji kontraksi uterus 1-2 menit, bimbing pasien dan keluarga untuk melakukan masase uterus
4)      Evaluasi kontraksi uterus setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan 30 menit pada jam ke 2
Ø  TINDAKAN YANG KELIRU DALAM PELAKSANAAN MANAJEMEN AKTIF KALA III
1)      Melakukan masase fundus uteri pada saat placenta belum lahir
2)      Mengeluarkan placenta, padahal placenta belum semuanya lepas
3)      Kurang kompeten dalam mengavaluasi pelepasan placenta
4)      Rutinitas kateterisasi
5)      Tidak sabar menunggu saat terlepasnya placenta
Ø  KESALAHAN TINDAKAN MANAJEMEN AKTIF KALA III
1)      Terjadi inversion uteri.Pada saat melakukan penengangan tali pusat terkendali terlalu kuat sehingga uterus tertarik keluar dan berbalik
2)      Tali pusat terputus . Terlalu kuat dalam penarikan tali sedangkan placenta belum lepas
3)      Syok

·         PEMERIKSAAN PLACENTA MELIPUTI :
1)      Selaput ketuban utuh atau tidak
2)      Placenta : ukuran placenta
a.      Bagian maternal         : jumlah kotiledon, keutuhan pinggir kotiledon
b.      Bagian fetal                : utuh atau tidak
3)      Tali pusat : jumlah arteri dan vena , adakah arteri atau vena yang terputus untuk mendeteksi placenta suksenturia.Insersi tali pusat, apakah sentral, marginal serta panjang tali pusat.
·         PEMANTAUAN KALA III
1)      Perdarahan. Jumlah darah diukur, disertai dengan bekuan darah atau tidak
2)      Kontraksi uterus : bentuk uterus , intensitas
3)      Robekan jalan lahir/laserasi, rupture perineum
4)      Tanda vital
a.      Tekanan darah bertambah tinggi dari sebelum persalinan
b.      Nadi bertambah cepat
c.       Temperature bertambah tinggi
d.      Respirasi : berangsur normal
e.      Gastroinstestinal : normal, pada awal persalinan mungkin muntah
5)      Personal hygiene

·         KEBUTUHAN IBU PADA KALA III
1)      Ketertarikan ibu pada bayi
Ibu mengamati bayinya, menanyakan apa jenis kelaminnya, jumlah jari jari dan mulai menyentuh bayi
2)      Perhatian pada dirinya
Bidan perlu menjelaskan kondisi ibu, perlu penjahitan atau tidak, bimbingan tentang kelanjutan tindakan dan perawatan ibu
3)      Tertarik placenta
Bidan menjelaskan kondisi placenta, lahir lengkap atau tidak.








BAB 3
PENUTUP
            A.KESIMPULAN
*      Tiga tanda lepasnya plasenta : perubahan bentuk dan tinggi uterus, tali pusat memanjang, dan semburan darah mendadak dan singkat
*      Keuntungan-keuntungan manajemen aktif kala III : persalinan kala III yang lebih singkat, mengurangi jumlah kehilangan darah, dan mengurangi kejadian retensio plasenta
*      Manejemen aktif kala III terdiri dari 3 langkah utama : pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir, melakukan penegangan tali pusat terkendali, masase fundus uteri
*      Jangan melakukan penegangan tali pusat tanpa diikuti dengan tekanan dorso-kranial secara serentak pada bagian bawah uterus (diatas simpisis pubis)
*      Pemeriksaan placenta meliputi : Selaput ketuban utuh atau tidak , Placenta : ukuran placenta , Bagian maternal : jumlah kotiledon, keutuhan pinggir kotiledon, Bagian fetal : utuh atau tidak , Tali pusat : jumlah arteri dan vena , adakah arteri atau vena yang terputus untuk mendeteksi placenta suksenturia, Insersi tali pusat, apakah sentral, marginal serta panjang tali pusat.
*      Pemantauan kala iii : Perdarahan, Kontraksi uterus , Robekan jalan lahir/laserasi, rupture perineum, Tanda vital dan Personal hygiene
*      Kebutuhan ibu pada kala iii : Ketertarikan ibu pada bayi, Perhatian pada dirinya dan Tertarik placenta, Bidan menjelaskan kondisi placenta, lahir lengkap atau tidak.
B.SARAN
Dalam memberikan asuhan persalinan kala III kita sebagai bidan harus memahami dulu apa saja yang dibutuhkan ibu dan bayi dengan rajin membaca agar tidak salah dalam memberikan asuhan. Sehingga apabila plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit kita dapat menanganinya jika rajin membaca dan bisa menambah keterampilan kita.

DAFTAR PUSTAKA
Sumarah, Widyastuti Yani, Wiyati Nining, (2008).Perawatan Ibu Bersalin(Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin), Fitramaya.Yogyakarta.
           
JNPK-KR/POGI, JHPIEGO Corporation, (2008).Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusui Dini, JNPK-KR.Jakarta.

Prawirohardjo, Sarwono, (2009).Ilmu Kebidanan, Bina Pustaka.Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar